Ini bukan surat cinta yang meminta balasan.
Ini bukan ultimatum yang memaksa keputusan.
Ini bukan puisi yang mencari pujian.
Ini bukti eksistensi —
dokumentasi bahwa pernah ada seseorang
yang begitu percaya,
begitu terbuka,
begitu berani menyayangi tanpa jaminan,
begitu kuat dalam kerentanannya,
begitu manusiawi dalam ketidaksempurnaannya.
18
Jika nanti kita bersama,
ini akan menjadi fondasi yang tidak goyah —
bukan karena dibangun dari janji,
tapi karena dibangun dari keberanian untuk rentan.
Bukan karena sempurna,
tapi karena kita sudah melihat kehancuran masing-masing
dan tetap memilih untuk berdiri di sampingnya.
Jika nanti kita berpisah,
ini akan menjadi kenangan yang tidak pahit —
bukan karena tidak sakit,
tapi karena dibangun dari kejujuran yang tulus.
Bukan karena tidak berarti,
tapi karena kita sudah memberi yang terbaik
meski hasilnya tidak sesuai harapan.
19
Either way —
jika bersama atau berpisah,
jika bahagia atau hancur,
jika diingat atau dilupakan —
aku tidak menyesal.
Karena aku sudah memberi yang paling autentik dari diriku.
Karena aku sudah mencintai dengan cara yang paling jujur.
Karena aku sudah menjadi manusia seutuhnya —
yang berani merasa,
yang berani terluka,
yang berani berharap
meski tidak ada jaminan.
20
— Dari yang pernah sangat percaya,
yang masih mencari alasan,
yang akan terus menunggu sampai tahu,
yang tidak menyesal telah mencintaimu.